Buscar

Páginas

Nenek Menjemput “Bola”

Nenek Menjemput “Bola” USIANYA menjelang 50 tahun, maka Ny. Yanti, 48, sudah bisa disebut nenek. Tapi karena tak memperoleh kepuasan dari suami, dia pun cari brondong bernama Ijan, 36, tetangganya. Di hari tertentu dia mengacu sistem jemput bola, untuk menjemput “bola”-nya gendakan. Sampai kemudian warga menggerebeknya.
Dalam urusan libido, kaum wanita relatif lebih bisa mengendalikan diri. Itu bisa dilihat dari banyaknya kaum wanita yang lebih memilih hidup menjanda sambil membesarkan anak, daripada kawin lagi. Bagi mereka, tak mudah cari pasangan yang bisa di atas suami. “Enaknya nggak seberapa, tapi keluarga malah jadi binasa,” begitu tekad kaum janda  yang merindukan baunya surga.
Bila ada  lembaga survei mengadakan penelitian, jumlah perempuan seperti Yanti prosentasenya pasti lebih kecil.  Betapa tidak, Ny. Yanti dari Tanjungpinang Barat, Provinsi Riau ini tak peduli menjelang nenek-nenek, anak muda pun dibujuknya sambil berseru: halo cowok, godain gue dong!
Perempuan warga Kampung Baru ini sudah lama tak memperoleh kehangatan malam dari suami. Ibarat lahan bebas gambut,  sudah lama dibiarkan kering tak dapat siraman air hujan. Sebagai perempuan yang masih enerjik, Ny. Yanti pun tak mau menerima keadaan. Daripada mati “kedinginan” di rumah, dia mulai mencari tokoh alternatif yang bisa memuaskan selera dan dahaga dirinya sebagai makhluk homo sapiens.
Di kampungnya dia punya tetangga yang lumayan muda, namanya Ijan. Di mata Yanti, baik tongkrongan maupun “tangkringan” lelaki tetangga ini sepertinya kok sangat menjanjikan. Mulailah perempuan pasang pukat dan jebakan, agar lelaki ini siap diajak berkoalisi permanen di kamar tidur. Tekadnya, kalaupun harus pakai guna-guna, tanpa menghabiskan kemeyan 1 Kg pun Sarijan pasti sudah tunduk dan takluk.
Kebetulan pula, meski usianya menjelang kepala lima, tapi Ny. Yanti ini masih termasuk STNK (Setengah Tua Namun Kenyal). Bodinya masih seksi menggiurkan, patat  belum ngelot (rata – Red) menurut istilah tukang batu. Dadanya juga masih lumayan penuh, meski bukan apa-apanya bila dibanding dengan Malinda Dee Citibank. Karenanya, begitu disodori barang bagus seperti ini, Ijan yang lelaki rumahan langsung klepeg-klepeg macam hakim disodori suap Rp 250 juta. Apa lagi si istri sudah beberapa tahun menjadi TKW di Timur Tengah.
Nenek Yanti – Ijan pun lalu sering memadu kasih bak suami istri. Pilihan wanita itu tak meleset, karena lelaki muda ini memang bisa mengimbangi seleranya. Cuma, agar aksi mesum ini lebih rapi kemasannya, si nenek tak mau membawa Ijan ke rumah. Justru sebaliknya, Yanti  yang melakukan sistem jemput bola ke rumah si lelaki, dalam arti dia menjemput “bola” si Ijan yang keras tapi lentur itu.
Cuma sial beberapa hari lalu. Saat Yanti “main bola” dengan Ijan, diintip warga. Mereka pun muak dengan kelakuan mereka, sehingga pasangan mesum itu digerebek dan diserahkan ke polisi. Dikiranya warga suami Yanti akan marah, justru dia memaafkan kelakuan istri. Karena ini delik aduan, polisi pun terpaksa melepaskan pasangan mesum itu pulang ke rumah masing-masing.
Sambil suruh nyanyi gelang sipatu gelang, nggak? (JP/Gunarso TS)

Cinta Satpam Berpaling

Cinta Satpam Berpaling BARU  jadi satpam lewat outsorcing, cintanya sudah berpaling. Inilah kelakuan Midan, 35, (bukan nama sebenarnya) warga Semarang. Saat aksi selingkuhnya ketahun bini lewat SMS, dia jadi mata gelap. Ny. Sarniti, 34,(bukan nama sebenarnya) pun dibanting dan dicekik lehernya hingga tewas. Satpam BNI ini pun jadi urusan polisi.
Sepertinya sudah salah kaprah, punya WIL atau PIL dianggapnya sebuah kebutuhan, bahkan menjadi hak semua anak bangsa. Bila ada kesempatan maupun kemampuan, kalangan pria dan wanita di mana-mana menduakan cintanya. Buktinya, kolom NID ini tak pernah kehabisan bahan. Di belahan bumi nusantara ini selalu ada saja pasangan suami istri yang mengkhianati Perjanjian KUA.
AM (anggota muda) aktivis selingkuh paling baru, rupanya Midan Satpam BNI Cabang Undip, Semarang. Meski kerjanya masih lewat jaringan calo tenaga kerja,  di mana kelangsungan kerjanya tak dijamin, dia sudah macem-macem punya WIL segala. Namanya juga Satpam bank, dengan sendirinya tiap hari ketemu nasabah yang cantik-cantik dan banyak duit. Salah satunya, Rini, 28, tertarik pada pemampilan Midan. Pertimbangan wanita itu mungkin, tongkat pentungannya saja gede dan panjang, apa lagi “pentungan”-nya yang lain.
Singkat cerita Midan – Rini sudah menjadi pasangan kekasih, lengkap dengan “pentung-pantungan”-nya ngkali. Soalnya, dalam berbagai kesempatan sang WIL berani kirim SMS mesra, berisi ajakan-ajakan mesum. Nah, beberapa hari lalu SMS itu terbaca oleh Sarniti, istri Midan. Begitu membaca kalimat-kalimat pendek dalam HP suami, dia terperangah dan menanyakan siapa gerangan dia. “Namanya sih lelaki, tapi kata-katanya kok begini, apa sampeyan homo, Mas?” tegur Sarniti telak.
Ya, dalam SMS itu oleh Midan diberi nama panggil Jumanto, tapi kok kalimatnya ajakan kelon? Maka Sarniti pun makin bernafsu untuk membuka tabir ini. Celakanya Midan juga bukan tipe lelaki yang bakat jadi pengacara. Dia blekak-blekuk memberi jawaban tak memuaskan, sehinga pada akhirnya mengaku kalah dan buka kartu bahwa Jumanto itu nama samaran seorang wanita.
Tapi ketika istri mengejar, siapa nama sesungguhnya perempuan itu, Midan malah ketularan jadi Ramadhan Pohan: ya si A lah, masak mau tahu saja! Midan diam, Sarniti jadi semakin sewot, sehingga omongannya semakin melengking-lengking. Dalam kondisi terpojok sedemikian rupa, Midan jadi nekad. Tanpa ampun Sarniti ditempeleng hingga jatuh. Habis itu langsung disusul dengan cekikan tepat di lehernya. Karena kesulitan bernapas, malam itu juga ibu dari satu anak itu tewas.
Demi melihat istri meninggal di tangannya, Midan jadi panik. Tak siap jadi napi, jenazah istrinya langsung digantung. Esuk paginya warga geger, sehingga polisi pun dilapori. Tapi dengan cepat Polsek Mijen Semarang segera tahu bahwa kematian gantung dini ini sekedar rekayasa. Dugaan pertama langsung mengarah ke Midan, apa lagi sidik jari di leher Sarniti juga tak bisa dibohongi. Satpam BNI yang tinggal di Santren Ngadirgo ini pun ditahan dengan tuduhan pembunuhan. “Saya kepepet, tak bisa berkelit dari tuduhan selingkuh,” ujarnya pada polisi.
Baru menyelewengkan cinta, apa lagi harta negara. (SM/Gunarso TS)

di kira tamu ternyata



Dikira Tamu Ternyata… – Berpositif thinking itu bagus, tapi jika selingkuhan istri malah dianggap tamu dari jauh, gimana coba? Nggak gimana-gimana, yang jelas Matius, 40, (bukan nama sebenarnya) akhirnya ngamuk saat melihat Yanet, 34, (bukan nama sebenarnya) istrinya sedang disetubuhi tamu dari jauh itu. Yosep, 33, (bukan nama sebenarnya) yang sedang “sibuk” itu langsung ditarik dan digebuki di tempat.
Di kutub utara bilangan Kanada, konon tamu dihormati dengan cara dipersilakan tidur dengan istri tuan rumah. Jika “budaya” tersebut dibawa ke sini, wah……, banyak lelaki mata keranjang jadi hobi bertamu. Asyikkan, membawa oleh-oleh sekedarnya, tapi bakal dapat “jamuan” istimewa. Bukan sekedar ayam goreng kremes, tapi hidangannya berupa paha dan dada……istri tuan rumah. Ini sih, tanpa saus pun bagi lelaki mata keranjang tetap syedapppp juga.
Di Kupang ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ny. Yanet nyaris mengadopsi cara-cara suku Eskimo tersebut. Karena PIL-nya orang jauh, dia disuruhnya menginap dengan segala servisnya. Pertimbanganya adalah, suami yang jadi sopir di luar kota, tidak mesti kembali ke rumah setiap hari. Jadi mumpung suami mandataris tak di rumah, silakan “kudeta” asmara sepuas-puasnya. Yang penting, rumput dan dedaunan tak ada yang tahu.
Matius selama ini memang menjadi sopir truk yang tugasnya sampai keluar kota. Bila sedang bawa muatan, bisa berhari-hari tak pulang. Walhasil dia ketemu istri paling-paling seminggu sekali. Hal ini membuat Ny. Yanet yang masih muda dan enerjik, jadi kesepian. Terbius ungkapan lama bahwa sopir itu setiap “ngaso mampir”, dia mencoba mengisi kesepiannya dengan mencari PIL. “Ah, suamiku di luar kota juga begitu. Apa salahnya aku membalas, biar skornya jadi satu satu,” begitu Yanet bertekad.
Selingkuhan Yanet yang bernama Yosep, memang tidak tinggal di kota Kupang. Tapi secara rutin di hari-hari “aman” dia menginap di rumah Yanet untuk mengisi hari-hari sepi tuan rumah. Dia senang-senang saja, wong semua akomodadi ditanggung panitia. Tiket bis pulang pergi dibayari, makan minum juga terjamin, ditambah lagi dapat “selimut” istimewa. Kalaupun pakai modal, paling-paling Yosep hanya disuruh rajin minum Irex.
Mungkin karen antar-tetangga sibuk dengan urusan masing-masing, sampai sekian lama “tamu istimewa” ini tak pernah terdetekti lingkungan. Maka Matius yang sibuk cari nafkah di atas roda, tak pernah terima laporan aneh-aneh dari para tetangga. Sampailah kemudian pada kejadian beberapa hari lalu. Pas dia pulang sekitar jam 20.00 kok melihat di ruang tamu ada lelaki. Dia pikir lelaki itu adalah famili Yanet dari Ambon. Karenanya dia hanya salaman dan bertegur sapa ala kadarnya, lalu tidur saking capeknya.
Tapi sekitar pukul 23.00 dia bangun dan masuk kamar pribadinya. Lho kok, di kamar dia menyaksikan tamu bernama Yosep itu tengah menyetubuhi bininya. Kontan Matius marah besar. Si tamu yang sedang “sibuk” tersebut ditarik dari atas tubuh istrinya langsung dihajar. Kalau saja tak dilerai istri, mungkin Yosep sudah jadi abon. Untuk memberi sanksi berat, Matius malam itu juga melaporkan Yosep ke Polres Kupang. Dalam pemeriksaan, “tamu istimewa” ini hanya mengaku baru menyetubuhi Ny. Yanet lima kali, tidak lebih.
Lima kali kok baru, memangnya mau berapa kali? (SCTV/Gunarso TS)

Paket hemat Gubug Asmara

Senin, 18 April 2011 - 21:58 WIB
|
Paket Hemat Gubug Asmara DENGAN  uang Rp 22.000,- orang sudah bisa menikmati paha ayam goreng di restoran siap saji. Di Situbondo, dengan uang Rp 10.000,- Ali, 45, sudah bisa menikmati “paha” mulus Ny. Mar, 39, di sebuah gubuk. Tapi paket hemat asmara itu akhirnya berantakan, karena digerebek warga di kala sedang ketanggungan.
Dalam urusan asmara, orang mau keluar anggaran berapa saja, sebab yang namanya cinta itu harus berani korban apa saja. Jangankan korban materil, korban moril bahkan onderdil, juga bukan masalah karena demi dan atas nama cinta. Maka jika cinta masih berfikir tentang “margin” (keuntungan) musti diragukan sampai di mana kadar cinta pasangan itu.
Ali warga Jangkar Kabupaten Situbondo, agaknya masih juga berpikir pemasukan dan pengeluaran ketika dia berselingkuh dengan Ny. Mar, warga Curahkalak . Pikir Ali, jika dirinya sudah mengeluarkan dana sekian-sekian, harus bisa berapa kali “masuk” atas diri istri Ijo, 45. Maka selagi bisa dapat sewa kamar yang murah, kenapa musti menginap di hotel. Di gubuk pun jadi, yang penting murah dan aman, itu kiat Ali yang punya ilmu pengiritan.
Ali – Mar sebenarnya belum lama menjalin asmara, meski keduanya sebenarnya merupakan tokoh lama. Lho kok? Soalnya, sekian tahun lalu keduanya adalah sepasang kekasih yang telah bertekad untuk membina rumahtangga bahagia. Tapi ternyata Tuhan menentukan lain. Mar menikah dengan lelaki lain dan Ali juga berkeluarga dengan wanita berbeda.
Dasar “jodoh”, sekian tahun kemudian Ali – Mar bersua lagi. Rasa serrrr dan sedut senut kembali merajai hati dan sanubarinya. Lupa bahwa sudah punya pasangan masing-masing, keduanya tergoda untuk menjalin koalisi. Tapi yang namanya koalisi asmara, tanpa “eksekusi” sama saja itu koalisi setengah hati. Maka didukung setan dan iblis, Mar – Ali masuk hotel dan adegan bak suami istri ini pun terjadi. Wah, meski itu stok lama, ternyata sejuta rasanya.
Keseharian Ali memang pedagang kacang tanah. Sebagai pedagang, dia tak bisa meninggalkan naluri bisnisnya. Kencan dengan Mar di hotel, sama saja high cost (biaya tinggi) yang berkepanjangan. Maka bila gedung baru DPR saja biayanya terus bisa ditekan, kenapa urusan paha wanita tak bisa menghemat anggaran? Karenanya, sejak itu Ali suka mengajak doinya kencan di gubuk tengah sawah, yang sewanya hanya Rp 10.000,- sekali kencan. Ini benar-benar paket hemat mengalahkan paha ayam goreng .
Tapi karena “paket hemat” ala Ali ini keseringan, warga lama-lama jadi curiga. Kenapa sebentar-sebentar Ali ke gubuk itu. Ketika diintip, busyet……ternyata dia sedang bersetubuh dengan bini Ijo. Penggerebekan pun dilakukan. Hampir saja mereka akan mengarak Mar – Ali, untungnya polisi segera tiba. Keduanya segera dibawa ke Polsek Jangkar.
Dalam pemeriksaan Ali mengakui, selain membayar Rp 10.000,- ongkos sewa gubuk, dia juga sering memberi uang belanja khusus pada Mar ini. “Ya sekedar bantuan ekonomi tak mengikatlah,” ujarnya polos.
Ya karena hubungan ini tanpa ikatan apa-apa. (HS/Gunarso TS)


Peselingkuh Ala Politisi

Peselingkuh Ala Politisi

TERNYATA tukang selingkuh punya pola kerja yang sama dengan politisi. Mereka sama-sama suka obral janji, tapi kemudian melupakan diri. Contohnya Jam, 27, ( bukan nama sebenarnya) dari Palembang ini. Gadis Ira, 20, (bukan nama sebenarnya) digauli berulangkali dengan garansi mau dikawini. Tapi ternyata, setelah sidoi hamil, malah ditinggal melarikan diri.
Bahwa politisi suka mengobral janji, sudah bukan rahasia lagi. Saat kampanye, dia berjanji ini itu, agar rakyat mencontreng namanya. Tapi setelah berhasil duduk manis di Senayan, dia jadi lupa akan janji-janji tempo hari. Katanya akan jadi penyambung lidah rakyat, tapi malah kerjanya studi banding melulu. Biarpun dikritisi dan diomeli LSM dan masyarakat, tak juga peduli. Bahkan Ketua DPR-nya, ikut-ikutan pula ke Turki meski itu bukan kapasitas untuk lembaga legislatip.
Jam warga, Kecamatan Ilir Timur (IT) II Palembang ini meski bukan politisi Senayan, latah pula untuk ikut-ikutan studi banding. Dia pengin membanding-bandingkan, bagaimana beda rasa antara pelayanan istri sendiri dengan wanita lain. Maka meskipun dalam koridor keluarga tindakan itu bisa disebut selingkuh, dia nekad saja. “Terus aja Bleh, bukankah selingkuh itu kepanjangan selingan indah keluarga utuh?” kata setan memberi motivasi.
Tukang ojek ini memang punya kenalan baru, yang diperolehnya saat dia mengojek sebagai pekerjaan sehari-hari. Setelah lama jadi tenaga antar jemput Ira, tanpa malu-malu dia mendeklarasikan cintanya, dengan mengaku masih bujangan tulen, siap testing dengkul. Ternyata si gadis bisa menerima aspirasi lelaki pengojek ini, dalam arti Ira siap menjadi pacarnya.
Tapi ternyata bagi Jam, membangun koalisi tanpa eksekusi, itu sama saja bohong. Diapun lalu merayu-rayu Ira untuk bersedia diajak bersetubuh bak suami istri.
Tentu saja dia menolak, karena belum jadi hak dan kewajibannya. Tapi pengojek yang tahu ilmu politisi, terus saja merayu dan berjanji bahwa siap bertanggungjawab bila terjadi hil-hil yang mustahal. Akibat rayuan Jam, akhirnya Ira pun bertekuk lutut dan berbuka paha.
Sejak itu kegiatan nyoblos dan nyontreng non Pemilu menjadi kegiatan rutin Jam dan Ira. Kadang di rumah, kadang di penginapan. Ibarat orang makan, mereka selalu “ngemil” kapan saja sempat. Tapi pada akhirnya, entah setelah berapa kali berbuat, perut Ira pun menggelembung secara signifikan. Ingat akan janji sang kekasih, dengan sendirinya Ira minta pertanggungjawaban untuk dinikahi secara resmi. Tapi ternyata pengojek ini benar-benar meniru kelakuan politisi. Begitu digugat “konstituen”-nya, buru-buru Jam minggat dengan alasan sudah punya keluarga.
Sudah barang tentu warga Sematang Borang tak terima perlakuan kekasihnya. Dia pun lalu mendatangi Polresta Palembang, minta segera Jam ditangkap dan dipenjarakan. Soalnya, perbuatan wanpretasi Jamil tersebut telah menghacurkan masa depannya sekaligus bakal anaknya.
Jam ternyata memang jago “ngemil”. (SP/Gunarso TS)

Peselingkuh Mujur Dari Langsa


Peselingkuh Mujur Dari Langsa -  Mujur benar nasib Alim – Ijah (bukan nama sebenarnya) warga Langsa Kabupaten Aceh Timur ini. Meski ketahuan selingkuh di negeri Serambi Mekah, tapi tak terkena sanksi hukum berdasarkan syariat Islam (qanun jinayat). Pemijat dan gendakannya ini hanya dipaksa nikah, tanpa merasakan “lezat”-nya punggung yang dicambuk bertubi-tubi.
Sejak September 2009 pemerintah Provinsi Aceh menerapkan Qanun Jinayat bagi seluruh wilayahnya. Sanksi itu antara lain diberikan kepada pelaku zina, tergantung kadar kesalahannya. Bisa dicambuk saja, bisa pula dirazam. Ketika berbuat memang asyik, tapi giliran kena sanksi Qanun Jinayat, tahu rasa. Baru ketahuan mesum saja sudah bukan main malunya, eh masih dicambuk pula di depan umum.
Tapi entah kenapa, mujur benar nasib pemijat dari  Alue Pineung, Langsa Timur ini. Ketika Alim, 37, tak bisa mengendalikan nafsunya, lalu menyetubuhi  Jjah, 30,  janda yang bukan istrinya, sanksinya hanya harus nikah segera. Mungkin tetua kampung itu merasa iba, karena keduanya menangis merengek-rengek dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Alkisah, Alim sudah beberapa waktu lamanya hidup menduda. Sebagai lelaki normal yang masih muda dan enerjik, sudah barang tentu merasa ada kebutuhan hakiki yang tak terpenuhi selama ini. Bayangkan, ketika ada istri dia tak pernah kedinginan di malam hari. Kapan saja berkehendak, istri bisa jadi sasaran tumpahan gairahnya.
Tapi sejak hidup menduda, Alim tak ketemu lagi ladang yang menggairahkan dan bebas gambut itu. Sebagai pemijat, sebetulnya lumayan banyak “ladang” di depan matanya. Tapi selama ini dia masih takut dan mampu mengendalikan gejolak lelakinya. Lagi pula, Alim tak mau dicap jadi dukun cabul seperti dukun-dukun pijat lainnya yang salah jalan.
Tapi ketika ketemu kenalan baru bernama Ijah, 30, sendi-sendi moral mulai berguguran. Apa lagi setan selalu mengompori bahwa menahan birahi bisa berdampak pada tumbuhnya penyakit jerawat. Maka dari pada beli obat jerawat, mendingan salurkan saja sesuai kebutuhan, yang penting sama-sama suka .
Begitulah, dalam kondisi pusing multi dimensi ini, Alim lalu mengajak gendakan ke rumahnya. Waktunya pun di luar kelaziman, sehingga menimbulkan kecurigaan warga. Bagaimana penduduk tak bersyak wasangka, terima  pasien wanita kok pukul 00 dinihari. Memangnya pijat telat barang lima menit bisa menyebabkan kematian? Warga pun mulai menganalisa, jangan-jangan, jangan jangan…..!
Penggerebekan segera dilakukan. Mereka memang tertangkap bukan dalam posisi berbuat. Tapi berdasarkan interogasi pihak RT, Alim – Jjah mengaku baru saja bersetubuh melepas hasrat. Pihak tetua desa menjadi iba rupanya ketika pezinawan dan pezinawati itu menangis dan mengaku bertobat.  Keduanya pun tak diserahkan ke lembaga kepolisian, kecuali hanya diharuskan nikah segera. Padahal bila jadi urusan berwajib di Aceh, opsinya hanya dua: dicambuk atau dirazam.
Habis nikah, bebas memijat sekehendak hatinya. (JPNN/G

Bapak bermental jahilliyah


Bapak Bermental Jahiliyah MACAM- macam jaman jahiliyah saja,  anak lahir perempuan tidak disukai. Dan kebiadaban Danuri, 25 (bukan nama sebenarnya) semakin sempurna, ketika bayi Ririn, 1,5 (bukan nama sebenarnya) digigit dan dibekak mulutnya gara-gara rewel melulu. Kini ayah biadab itu jadi urusan polisi Polsek Tandes, Surabaya.
Bagi orangtua yang waras dan tak pernah dicuci otaknya, anak lahir lelaki atau perempuan, semua disambut dengan gembira. Kehadirannya akan menjadi pencerah dan penceria keluarga. Orangtuanya adalah pasangan yang bahagia, karena dipercaya Allah untuk mengasuh dan mendidik salah satu umatnya. Pepatah pun mengatakan, anak adalah belahan jiwa dan sibiran jantung.
Tapi tidak demikan bagi Danuri warga Tubanan Lama  Tandes, Surabaya.    Anak lahir perempuan, bukanlah pilihan dan cita-citanya. Maka bagi lelaki gendeng ini, bayi perempuan hanya akan jadi beban keluarga saja. Oleh karenanya,  sebelum bikin repot ke depannya, mendingan dimatikan sekarang saja. Lebih cepat lebih baik. Dasar.
Sesuai dengan usianya, Danuri memang masih mbocahi dalam perilaku. Lebih-lebih dia menikah dengan  perempuan yang usia 5 tahun di atasnya, sehingga dia dalam keseharian harus selalu diemong istri, bukan dia yang ngemong. Ditambah dengan kelakuannya yang temperamental, siapa pun yang mengganggu ketenangan dirinya harus dibinasakan, tak peduli itu anak kandung sendiri.
Alkisah, ketika  istri hamil sebagai dampak kerjasama nirlaba, Danuri bilang pada istrinya bahwa mendambakan anak lelaki. Tapi jika anak itu nanti lahir wanita, jangan menyesal, pasti si upik saya siksa terus. Kala itu Tami, 29 (bukan nama sebenarnya)  istrinya, menganggap omongan suami sekedar bualan warung kopi. Ee,  ternyata benar. Begitu bayi itu lahir perempuan, dia kurang bersemangat menerimanya. Dan ternyata ancaman Danuri bukan sekadar wacana saja.
Baru tiga bulan usia bayi Ririn, sudah pernah dibekap mulutnya gara-gara nangis. Pernah pula bayi tanpa dosa itu disrimpung kaki dan tangannya. Dan klimaknya beberapa hari lalu, gara-gara Ririn nangis terus ketika ditinggal ibunya ke warung, langsung digigit dan dibekap mulutnya. Keruan saja si upik pingsan. Ketika istrinya tahu, jawabnya enteng saja. “Anak macam begitu jangan dimanja, mati saja nggak apa-apa,” kata  Danuri tanpa ekspresi.
Dengan panik Tami menolongnya, digoyang-goyang sampai bayi mau menangis. Tapi melihat kondisi putrinya, dia memaksa suaminya mengantarkannya ke RS Muji Rahayu. Tapi setelah dicek dokter, bayi itu sudah terlanjur tewas. Danuri yang katanya mau menghubungi keluarga, ternyata kabur melarikan diri. Polisi Polresta Surabaya tengah memburu si bapak jahiliyah ini.
Kalau ketemu,  jangan  kasih ampun. (HS/Gunarso TS)