Buscar

Páginas

Kata-kata Unik Para Tokoh Terkenal

Entah apa maksud para tokoh terkenal ini yang jelas inilah kata-kata unik yang pernah diucapkan dari bibir mereka yang masih terngiang hingga kini. Kontroversi, bijak atau unik? Lets see:
Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI :

Dalam sebuah revolusi, bapak makan anak itu adalah hal yang lumrah.
Soeharto, Presiden Kedua RI :

Siapa saja yang mencoba melawan, akan saya gebuki.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Negarawan, Ulama, Presiden ke-4 RI :

Tergantung pemerintah. Kalau pemerintah campur tangan terus dalam segala hal yang terjadi, adalah kami tidak ada jalan lain adalah membisikkan pada para pemilih golput aja bareng-bareng.
Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI :

Nabi saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok.
Mark Twain, Penulis :

Saya tidak suka dengan perkelahian. Bila saya memiliki musuh, saya akan memaafkannya, mengajaknya ke tempat yang tenang, baru menghabisinya di sana.
Ann Landers, Kolumnis :

Satu dari empat orang di dunia ini mengalami gangguan jiwa. Bila tiga orang yang Anda kenal baik-baik saja, berarti Andalah yang mengalaminya.
Zsa Zsa Gabor, Aktris :

Saya adalah penjaga rumah yang hebat. Setiap kali saya meninggalkan seorang pria, saya selalu berhasil memiliki rumahnya.
Henry Ford, Pendiri Ford Motor :

Berpikir adalah pekerjaan terberat, karena itulah sedikit sekali orang yang mau menggunakan otaknya.
Alexander Dumas the Younger, Pebisnis :

Bisnis ? Caranya mudah sekali: gunakan saja uang orang lain.
Angie Dickinson, Aktris :

Saya berbusana agar dilihat wanita, dan menanggalkan busana agar dilihat pria.
Albert Einstein, Fisikawan :

Memahami pajak adalah hal yang paling sulit dimengerti di dunia ini.
Samuel Goldwyn, Produser Film :

Saya tidak mau dikelilingi orang yang bermental ‘yes-man’. Saya ingin orang yang mengatakan kebenaran meskipun setelah itu saya akan memecatnya. Kita membayar gajinya terlalu besar, sialnya lagi dia pantas menerimanya.
Roberto Goizueta, Pemimpin Coca Cola :

Musuh-musuh kita adalah kopi, susu, teh dan air putih.
John Paul Getty, Miliarder :

Bila Anda berhutang 100 Dollar, andalah yang pusing. Tapi bila Anda berhutang 100 juta Dollar, bank yang akan pusing.
Herbert Hoover, Presiden AS ke -31 :

Berbahagialah generasi muda, karena merekalah yang akan mewarisi hutang bangsa.
AnatoleFrance, Penulis :

Buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pastilah sangat membosankan.
Woody Allen, Sutradara Film :

Ternyata bertemu penjual asuransi jiwa adalah lebih buruk daripada kematian itu sendiri.
T.S. Eliot,Penulis :

Penulis yang masih muda, meniru. Penulis yang sudah berpengalaman, mencuri ide.
Agatha Christie, Novelis Misteri :

Kolektor barang antik adalah suami yang paling baik, karena semakin tua istrinya, semakin ia mencintainya.
Alfred Hitchcock, Sutradara Film Misteri :

Saya tidak pernah bilang bahwa para aktor adalah sapi. Saya hanya bilang mereka harus diperlakukan seperti sapi.
Alan King, Komedian :

Bila engkau ingin membaca tentang cinta dan perkawinan, maka engkau harus membaca dua buku yang berbeda.
AnatoleFrance, Novelis :

Jangan pernah meminjamkan buku karena tidak akan pernah dikembalikan. Buku-buku di perpustakaan saya semuanya adalah hasil pinjaman.
Voltaire, Filsuf :

Apabila kita bicara soal uang, maka semua orang sama agamanya.
D.H. Lawrence, Penyair :

Hasil dari kerja adalah uang. Hasil dari uang adalah lebih banyak uang. Hasil dari lebih banyak uang adalah kompetisi yang ganas. Hasil dari kompetisi yang ganas adalah dunia yang kita diami ini.
Lyndon B. Johnson, Presiden AS ke-36 :

Apabila dua orang selalu sepakat dalam segala hal, itu berarti cuma satu orang yang berpikir.
Charles de Gaulle, Presiden Perancis Pertama :

Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya.
Thomas Alva Edison, Penemu :

Banyak orang yang percaya bahwa suatu hari kala mereka bangun dari tidur, mereka sudah menjadi kaya. Sesungguhnya mereka sudah separuh benar karena mereka memang telah bangun dari tidur.
James Baldwin,Penulis, Aktor :

Semua orang memuji-muji surga, tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga.
Don Marquis, Kolumnis :

Orang yang munafik adalah orang yang … hey, siapa sih yang tidak munafik.
Benjamin Franklin, Negarawan :

Orang yang pandai meminta-minta maaf, jarang sekali pandai melakukan hal-hal lain.
Joseph Stalin, Pemimpin Politik :

Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik.
Will Rogers, Pelawak Politik :

Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang.
Adolf Hitler, Pemimpin Nazi :

Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir.
Aku tidak perlu berpikir karena aku adalah pegawai pemerintah.
Clement Attlee, Perdana Menteri Inggris :

Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi, namun demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut.

mudik



Mudik…
Inilah tradisi unik bangsa kita menjelang lebaran. Berbondong-bondong jutaan manusia pulang ke kampung halaman dan tanah kelahirannya. Apapun jabatan, tingkat ekonomi, maupun kegiatan mereka selama di kota, rela mereka tinggalkan demi mudik, urusan yg satu ini nggak bisa ditawar lagi.
Semoga mudik lebaran kali ini berjalan tertib dan lancar. Bagi para pemudik jangan lupa berdoa, hati-hati di jalan dan patuhi rambu-rambu lalu lintas, agar selamat sampai tujuan dan berkumpul kembali dengan sanak saudara tercinta…

alay

1. Orang alay biasanya menyukai lagu-lagu pop melayu Indonesia seperti Kangen Band, ST12, dan Radja.Kenyataannya:
Tidak sepenuhnya benar.
Justru alay-alay yang menyukai lagu-lagu seperti Kangen Band, Radja, Angkasa, dsb itu mulai jarang.
Dan anehnya, justru lagu-lagu Kangen Band itu malah ‘populer’ di kalangan non-alay, dengan maksud lucu-lucuan dengan teman-teman atau karaoke dengan maksud joke dengan pura-pura menjadi alay .
Justru alay-alay yang seringkali ditemukan itu ‘menyukai’ lagu-lagu yang istilahnya ‘cenderung terbawa mode’ atau menurut mereka ‘keren/gokil/gaul’, padahal mereka hanya sekedar ikut-ikutan biar dibilang keren. Bukan karena musikalitas. Biasanya beraliran rock, punk, atau metal.
Contohnya bisa dari dalam negeri seperti PeeWee Gaskins, atau dari luar seperti Secondhand Serenade, The Red Jumpsuit Apparatus, Avenged Sevenfold, bahkan hingga blink-182 dan Metallica!
Dengan menjadi ‘penggemar’ musik-musik mereka, kemudian mereka mencaci dan menganggap rendah musik-musik/musisi-musisi tertentu; biasanya musik-musik yang diluar ‘selera’ mereka (yang menjadi korban biasanya musik-musik yang lebih slow/ngepop), dengan mengatakan ‘musik banci’, ‘lagu bencong’, dsb. Mereka mengaku-ngaku membenci lagu-lagu seperti itu padahal aslinya malah lebih menyukainya (lihat paragraf selanjutnya).
Kalaupun yang ‘pop’, biasanya lagu-lagu mainstream standar acara-acara musik di televisi-televisi swasta seperti Inbox, Dahsyat, dll; atau menjadi soundtrack sinetron-sinetron. Biasanya grup musik/penyanyi yang cenderung mengikuti pasar. (untuk saat ini musimnya pop melayu)
Contohnya The Virgin, ST12, Ungu,  Hello, Ridho Rhoma, Lyla, dsb.
Aslinya, mereka justru lebih menyukai lagu-lagu semacam ini ketimbang lagu-lagu yang mereka anggap ‘keren’ tersebut.
Hanya saja mereka ‘jaim’ sehingga mereka menikmati lagu ini secara sembunyi-sembunyi atau menyelipnya di ‘tumpukan’ lagu-lagu yang mereka anggap ‘keren/gaul’ di playlist mereka.Maksudnya biar tidak ketahuan bahwa mereka menyukai lagu seperti itu.
2. Orang alay biasanya menyukai grup musik yang penampilan personilnya (maaf) ‘kampung’ atau ‘menengah ke bawah’. (penampilan fisik, bukan performance di atas panggung)
Kenyataannya:
Justru sebaliknya!
Alay justru malah melihat suatu grup musik/musisi dari bentuk fisik personilnya.
FYI, selera musik mereka juga mencakup aktor/aktris yang terjun ke dunia musik, meskipun kualitas musiknya pas-pasan sekalipun!
Contoh: Lyla (katanya vokalisnya ganteng), The Titans (katanya vokalisnya ganteng juga), The Adlys (mentang-mentang ada Adly Fairuz), Irwansyah, The Sisters (mentang-mentang ada Shireen Sungkar), dsb.
Mereka seringkali ‘judge a book by its cover’, kalau vokalisnya jelek atau ‘muka melas’, menurut mereka sudah pasti musiknya ‘melas’ juga, kalau vokalisnya gendut musiknya ‘nyesekin’, dsb.
Ingat, sama sekali tidak ada hubungan antara tampang dengan musikalitas!
Musikalitas itu lebih dekat dengan suara dan kemampuan memainkan alat musik dengan alat-alat tubuh tertentu. Musik itu bukan seni peran yang lebih mengedepankan tampang dan akting.
Di luar sana, banyak sekali musisi meskipun dengan penampilan fisik yang  menengah ke bawah namun mampu menghasilkan musik yang jauh lebih berkualitas ketimbang grup-grup musik/musisi-musisi yang mengandalkan tampang, tetapi musikalitasnya cenderung mengikuti pasar.
3. Orang alay identik dengan ekonomi (maaf) menengah ke bawah.
Kenyataannya:
Tidak semua benar.
Memang sifat alay itu karena pengaruh lingkungan, dan lingkungan yang identik dengan ke-alay-an itu memang tidak dapat dipungkiri, didominasi oleh kalangan menengah ke bawah.
Tetapi banyak juga alay yang berasal dari kalangan menengah ke atas.
Biasanya OKB (orang kaya baru), tetapi OKL (orang kaya lama) juga banyak.
Mungkin karena pengaruh lingkungan yang mendidik mereka untuk mempunyai sikap alay.
Mencakup orang-orang yang sok keren, tukang pamer, dan yang suka menganggap rendah orang-orang yang berada di bawahnya.
Contohnya seseorang yang mempunyai BlackBerry, lalu menganggap rendah orang-orang di sekitarnya yang mempunyai ponsel yang hanya mempunyai fitur sms dan telepon, dengan menganggap mereka *ucup*, tidak gaul, atau miskin. Padahal BlackBerry hasil merengek atau bahkan mengancam orang tuanya; bahkan dia sendiri kurang mengetahui fitur-fitur BlackBerry.
4. Orang alay biasanya ditemukan di perkampungan/pedesaan atau di pelosok.
Kenyataannya:
Kata siapa? Justru di pelosok/perkampungan/pedesaan lebih banyak orang yang tahu diri dan lebih mengerti akan arti kebersamaan dan perdamaian, serta rendah hati.
Kalau Anda suka menonton acara-acara yang berbau petualangan/menjelajah daerah-daerah tertentu, justru orang-orang yang tinggal di wilayah seperti itu lebih suka bermain dengan permainan-permainan turun-temurun dengan atau membantu orang tuanya untuk menghidupi keluarga, misalnya menangkap ikan atau mencari kayu bakar.
Orang alay banyak juga yang ditemukan di wilayah perkotaan bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Mungkin yang orang tuanya mengadu nasib di sana.
Kita tahu sendiri, kasus-kasus kriminal seperti tawuran atau melibatkan geng-geng yang umumnya melibatkan anak-anak ABG (biasanya SMP atau SMA awal bahkan SD akhir) lebih banyak terjadi di mana?
Kenakalan remaja seperti tawuran dan merusak fasilitas umum merupakan imbas dari budaya alay yang ‘selalu ingin dibilang keren/gaul’.
5. Orang alay berpendidikan/berpengetahuan rendah.
Kenyataannya:
Tidak semua.
Ada juga orang yang pengetahuannya tinggi, dan dia menggunakan pengetahuannya itu untuk pamer, untuk menjatuhkan orang lain, serta untuk mencaci/menghina orang lain yang tidak sependapat dengannya.
Intinya, kembali lagi ke pandangan hidup alay: dibilang ‘keren’ atau ‘gaul’!
Contohnya orang yang serba tahu tentang musik metal, lalu menghina musik genre lain; maksudnya biar dibilang keren/gaul, merasa diri paling keren dan cool.
Seharusnya orang semakin tinggi pengetahuannya/pendidikannya itu semakin rendah hati, seperti ilmu padi makin berisi makin merunduk.
6. Orang alay kLo cHaT pa5t1 tuLi5aNnY4 g3d3 k3ciLzZzZ, p’koQnY kY 9iNi Lh, 9auLzZz meNzZz!!!!!!!!!!!!!1
Kenyataannya:
Benar, meskipun belakangan sudah mulai jarang…
Tulisan s’pRt1 ni3 memang ‘warisan’ dari jaman Friendster, jaman *piip* Online, jaman Nokia N Series masih sangat booming juga, sekitar pertengahan 2004 hingga awal 2008.
Jaman-jaman segitu mungkin masih dibilang unik, bahkan imut. Tetapi jaman sudah berubah, seiring cara pandang orang-orang jaman sekarang. Tulisan seperti itu dianggap ‘merusak mata’ dan bahkan ‘memutar otak’ untuk membacanya.
Tetapi sekarang para alay sudah mulai ‘sadar’. Sudah jarang tulisan 9de kciLz ditemukan.
Hanya saja, penyingkatan hingga tulisan sulit untuk dibaca, sok imut, serta pe-lebay-an kata masih bisa dirasakan.
7. Orang alay biasanya ponselnya dibawah 1 juta, atau kameranya masih VGA, atau ponsel bundling operator, atau ponsel second, atau ponsel china/merek lokal tidak jelas.
Kenyataannya:
Tidak ada hubungan antara ke-alay-an dengan kepemilikan ponsel/telepon genggam.
Setiap orang mempunyai taraf hidupnya masing-masing.
Tetapi kebanyakan malah alay yang ponselnya 2 juta keatas, tetapi casingnya ditempelkan stiker-stiker khas alay sok keren seperti gambar tengkorak, ganja, atau jari tengah.
Kamera 2-5 mpix hanya untuk narsis?
Baru-baru ini, kabarnya para alay sudah mulai menyentuh BlackBerry dan iPhone.
*hanya ‘menyentuh’ ataukah ‘tersentuh’ ingin membeli BlackBerry dan iPhone, dan sedang memikirkan bagaimana caranya memeras orang tua?*
Justru ponsel-ponsel yang fiturnya hanya SMS dan telepon itu kebanyakan dimiliki oleh orang-orang yang lebih mengetahui fungsi ponsel yang asli; yaitu SMS dan telepon.
8. [No SARA] Alay biasanya berasal dari kalangan agama tertentu.
Kenyataannya:
Kebanyakan alay bersikap seperti orang tidak mengerti agama dan agnostik (masih ragu-ragu tentang keberadaan Tuhan dan kebenaran-Nya)
Banyak alay yang kerjaannya hangout, nongkrong, hingga lupa waktu bahkan lupa ibadah.
Alay juga isi otaknya harta dan seks.
Pengutil di toko-toko, tukang peras, preman, dan perampok kebanyakan dari kalangan alay.
Mereka yang seks di luar nikah juga kebanyakan dari kalangan alay yang masih kurang mengerti agama.
Bahkan sebagian kalangan alay malah menganggap keren seni-seni yang mengarah ke pemujaan setan, penodaan unsur-unsur agama, serta atheisme!
9. Alay nongkrong di mall.
Kenyataannya:
Tergantung mallnya.
Ciri-ciri mencolok mall yang banyak alaynya: banyak counter ponsel/pulsa; biasanya mall yang sasaran pengunjungnya kalangan dari kelas menengah ke bawah.
Tetapi kalau menurut pengalaman pribadi, sepertinya alay sudah mulai ‘mengenal kemajuan teknologi’ seperti internet dan LAN, dimana mereka lebih sering ditemukan di warnet-warnet.
Kalau browsing, biasanya sekitar mengakses situs-situs jejaring sosial seperti Friendster atau Facebook, dan melakukan aksi alay mereka. Atau download konten-konten dari internet yang mengarah ke alay atau sok keren. Atau juga chatting dengan bahasa dan tulisan gaya alay dan topik yang mengalay.
10. Kebanyakan alay memakai baju-baju distro abal-abal (biasanya Diery)
Kenyataannya:
Alay sepertinya lebih identik dengan kaos-kaos band-band metal/hardcore/rock, padahal ditanya sejarahnya atau lagu-lagunya tidak tahu. Hanya suka gambarnya saja dan karena ingin dibilang gaul/keren. (kecuali kaos hasil sumbangan atau tidak ada kaos yang lain lagi)
Alay juga lebih identik dengan kaos-kaos dengan gambar-gambar khas alay sok keren seperti tengkorak, ganja, atau jari tengah tidak jelas.
Alay juga identik dengan kaos-kaos dengan tulisan-tulisan Bahasa Indonesia sok keren, termasuk tulisan-tulisan sok Bahasa Inggris padahal penulisannya dan grammarnya salah atau maknanya tidak jelas. Misalnya kaos-kaos dengan tulisan ‘p4niti4 h4ri ki4m4t’ atau ‘perset*n loe semua’, atau untuk versi sok Bahasa Inggris misalnya kaos bertuliskan ‘I LAVE YOU FOREVER MY LAVE’. (jangankan tulisannya yang salah, maknanya kalimatnya saja basi abis).


Yayuk Basuki Jadi Pelatih di Hong Kong

Yayuk Basuki Jadi Pelatih di Hong Kong
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Petenis senior Indonesia, Yayuk Basuki, mendapat tawaran menjadi pelatih di Hong Kong sehingga batal mendampingi juniornya tampil di SEA Games 2011.
"Yayuk Basuki sebelumnya mendapat tawaran memperkuat tim SEA Games XXVI pada November mendatang, tampil di nomor ganda putri bersama juniornya," ujar Suharyadi, suami Yayuk Basuki, di Jakarta, Jumat.
Suharyadi mengatakan bahwa tawaran melatih di Hong Kong dilakoninya dengan pertimbangan menyebarkan ilmu tenis di tingkat internasional. Alasan lainnya juga untuk mencari penghasilan setelah tidak lagi aktif dalam dunia tenis nasional.
Menurutnya, Yayuk sengaja tidak memenuhi penawaran PB Pelti masuk tim inti SEA Games XXVI Jakarta dengan pertimbangan memberikan kesempatan pada juniornya. Karena, olahraga harus tertanam renegerasi pemain untuk mencapai prestasi internasional.
Meski dalam dunia tenis, Yayuk masih merupakan petenis terbaik nasional dan berpeluang menyuguhkan medali emas bagi Merah-Putih di multi event ASEAN tahun 2011.
''Bila dalam suatu multi event atlet senior selalu diandalkan meraih medali emas tanpa memberikan kepercayaan pada juniornya, regenerasi pemain tidak berjalan sesuai harapan,'' kata Suharyadi. ''Ketika era kejayaan seniornya mulai menurun, maka sulit mencari penggantinya untuk diandalkan dalam pertandingan internasional. Hal itu yang terjadi dalam pembinaan atlet dari semua cabang olahraga di tanah air."
Redaktur: Didi Purwadi
Sumber: Antara

Saat Bertugas di Perang Teluk, Abdal Malik Rezeski Terkesan Kesalehan dan Sikap Rendah Hati Muslim



Saat Bertugas di Perang Teluk, Abdal Malik Rezeski Terkesan Kesalehan dan Sikap Rendah Hati Muslim
Abdal Malik Rezeksi
Kamis, 28 Juli 2011 13:07 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Ia adalah warga New York kelas menengah sekaligus perwira dalam Angkatan Darat Amerika Serikat (AS). Pada 1991 ia dengan senang hati bergabung melayani negara dalam tugas di Perang Teluk I.

Tahun berikut ia dikirim ke Pakistan, dimana ia bertemu orang saleh dan terkesan dengan mereka. "Mereka baik, orang-orang rendah hati yang mencoba menjalankan ibadah dengan taat," tuturnya.

Ia mulai belajar Islam pertama karena didorong oleh rasa ingin tahu, lalu keluar dari keyakinan. Tepat di akhir tahun, ia menjadi seorang Muslim.

"Ayah saya seorang Yahudi, ibu saya Kristiani," tutur Abdal Malik Rezeski yang tinggal di Dallas. "Islam adalah agama pertama yang masuk akal bagi saya."

Islam adalah salah satu agama yang tumbuh cepat di Amerika. Salah satu penyebab adalah pertambahan imigran dan angka kelahiran yang tinggi di kalangan mereka. Namun seiring waktu, justru lebih banyak warga asli Amerika yang beralih ke Islam.

Mereka tertarik dengan aturan moral ketat yang diusung Islam, sistem keyakinan yang sebenarnya serupa dengan Yudaisme dan Nasrani. Kemiripan itu, menurut ulama, memudahkan langkah-langkah untuk mempraktekan dan beralih ke Islam.

"Pesan langsung mengenai Tuhan, jauh lebih mudah dipahami ketimbang konsep Trinitas, ujar Jane Smith, seorang pakar studi Islam di Hartford Seminary.

Mayoritas warga Amerika yan beralih, 64  persen adalah Afrika-Amerika, demikian menurut The Mosque Report, sebuah kajian nasional yang dilakukan empat organisasi Muslim. Salah satunya adalah Share Muhammed, 48, yang sejak kecil rajin mendatangi gereja kulit hitam.

"Yang langsung menarik perhatian saya dari Islam adalah saya tidak melihat rasisme," ujarnya. Di masjid, wanita itu mengaku bertemu dengan banyak imigran dari penjuru dunia dan kemajemukan Amerika.

Sekitar 6 juta Muslim tinggal Amerika Serikat. The Mosque Report memperkirakan sekitar 30 persen jamaah adalah mualaf.

Namun tak seorang pun tak pasti berapa mualaf di sana karena Muslim tidak mencatat informasi itu. Mereka mengatakan hal itu juga cukup sulit karena orang kerap beralih memeluk Islam tanpa keterlibatan masjid.

"Bagi Muslim, itu adalah antara diri anda dan Tuhan," ujar seorang pakar sosiologi agama, Dr. Behrooz Ghamari-Tabrizi, di Georgia State University. "Sementara dalam Yahudi dan Kristen, anda harus mengikuti ritual formal."

Seperti yang dialami Rezeksi, di hari ia memutuskan memeluk Islam, ia mencari teman-teman Pakistannya. Dengan keberadaan mereka ia mengucapkan dua kalimat syahadt. "Tiada Tuhan selain Allah (swt) dan Muhammad adalah rasul-Nya."

Begitu mengkaji Al Qur'an, kitab suci Muslim, ia mengaku kian tertarik lebih dalam dengan agama tersebut.

"Dengan Islam saya bisa melihat ramuan bagaimana agar berhasil menjalani kehidupan saat ini dan kehidupan masa nanti." ujarnya. "Tidak hanya panduan praktikal mengenai perceraian dan bagaimana memperlakukan anak yatim, tetapi juga petunjuk spiritual yang memaparkan apa Tuhan itu dan bagaimana kita seharusnya berhubungan dengan-Nya."
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Dallasnews.com

STMIK AMIKOM

Sara dan Elaine: Sebelum Jadi Muslim Coba-coba Puasa....Kini Bersyukur Rasakan Ramadhan



Sara dan Elaine: Sebelum Jadi Muslim Coba-coba Puasa....Kini Bersyukur Rasakan Ramadhan
Sara dan Elaine
Senin, 01 Agustus 2011 15:10 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR - Seperti tengah menjalani cinta pertama. Inilah yang dirasakan Siti Sara Phang Abdullah dan Nur Balqis Elaine ketika menceritakan kembali konversi mereka ke dalam Islam. Ramadhan bagi keduanya, bak dicinta ulam tiba.

Dibesarkan dalam keluarga Kristen, Sara, 19, pada mulanya terpesona pada budaya Islam. Dia terpikat oleh tradisi seperti jilbab, dan bagaimana teman-teman Muslim-nya mempunyai banyak doa, sejak dari bangun tidur, makan, ke toilet, berkendara, hingga tidur lagi. Saat Ramadhan, mereka berpuasa.

"Tapi mereka tidak bicara tentang Islam, atau mempromosikannya pada saya. Saya jatuh cinta dengan keindahan Islam dengan sendirinya," tambahnya.

Elaine, 20, yang berdarah campuran Cina-Dayak, mengakui hal sama. "Aku punya teman banyak di sekolah Melayu, dan hatiku tertambak pada Islam. Ini adalah benar-benar baru dan perasaan yang hebat," katanya dalam bahasa Melayu fasih. Ibunya adalah seorang Katolik Roma.

Sambil tersenyum, dia menambahkan bahwa dia merasa lebih tenang sekarang banyak setelah memeluk Islam.

Berpakaian sederhana, dua wanita muda ini antuasias menceritakan kisah mereka di Perkim, sebuah organisasi kesejahteraan Islam yang didirikan untuk membantu mualaf Malaysia menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai Muslim.

"Ketika saya bangun selama sahur, saya senang untuk berpuasa," kata Sara. Ia, yang dulu kerap coba-coba berpuasa, mengikuti kebiasaan teman-teman muslimnya saat Ramadhan, menambahkan bahwa ia sedikit lelah dan haus di siang hari. "Jika saya bisa tahan, saya teruskan, tapi kalau perut terasa sangat nyeri karena asam lambung naik, saya berbuka."

Sedang Elaine, ia mengaku terbiasa berpuasa. Saat bersekolah di Kedah, ia kerap ikut berpuasa setiap hari Senin dan Kamis. "Perut saya sakit sedikit karena udara di dalam," akunya.

Elaine menambahkan bahwa puasa membuatnya sangat bahagia. Ia merasa tenang dan mengingatkan kerendahan hati dan kesabaran.

Meskipun kisah-kisah mereka diceritakan dengan kegembiraan yang besar, namun perjalanan mereka menemukan Islam tidaklah mulus. Sara dan Elaine tinggal di penampungan Perkim untuk anak perempuan, setelah keluarga mereka mengusirnya karena berpindah agama.

Sara berkata bahwa keluarganya tidak setuju dengan pilihannya pada Islam. Walau ia menyembunyikannya, akhirnya keluarga besarnya mengendusnya.

"Ayah saya melihat saya memiliki lebih banyak baju kurung,  buku-buku Islam dan hal-hal keagamaan lainnya, sehingga ia bertanya," ia menjelaskan. Sara, yang dibesarkan sebagai seorang Protestan, akhirnya mengaku ia telah menjadi Muslim.

Dia mengatakan bahwa ibunya dan saudara perempuannya menerima, tetapi ayahnya telah memberinya ultimatum untuk memilih antara tinggal di rumah atau menjadi seorang Muslim. Dia memilih yang terakhir dan sekarang ia tinggal di penampungan dengan Elaine.

Elaine menyatakan ayahnya yang seorang Buddha telah menerima agama barunya. Tak demikian dengan sang ibu. ""Karena aku seorang Muslim sekarang, akan lebih mudah buatku untuk tinggal di luar saja," tambahnya.

Dia mengakui bahwa "agak aneh" bagaimana dia tertarik dengan Islam. "Setiap kali saya mendengar azan, hati saya gelisah," katanya dengan kilau di matanya.

Inilah yang mendorongnya untuk lebih banyak tahu tentang islam. "Islam lebih menenangkan. Aku lebih tenang sekarang," katanya.

Kedua gadis ini menjelaskan bahwa mengubah nama mereka tidak terlalu sulit. Yang dibutuhkan, katanya,  adalah "Kad Islam" dari Departemen Agama Islam (Jawi), atau sebuah "Surat Sumpah", disertai akte kelahiran dan kartu identitas mereka. "Diurus di Putrajaya, maka di hari yang sama kita sudah bisa menyandang nama baru Muslim," kata Elaine.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: The Malaysia Insider, Perkim

Wanita Atheis Skotlandia Ini Menemukan Islam pada Usia 65 Tahun

   
Wanita Atheis Skotlandia Ini Menemukan Islam pada Usia 65 Tahun
Maryam Noor

Senin, 01 Agustus 2011 16:23 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Nama Islaminya adalah Maryam Noor. Sedangkan nama aslinya adalah Margaret Templeton.

Wanita ini lahir di Skotlandia dan tumbuh besar di keluarga atheis sehingga ia pun tak percaya Tuhan. Dalam rumahnya anggota keluarga dilarang berbicara tentang Tuhan. "Bahkan ketika kami belajar di sekolah, kami tak dibolehkan menyoal itu di rumah, bila tidak kami dihukum."

Namun sejauh yang bisa ia ingat, Maryam selalu berupaya mencari Kebenaran mengapa ia hidup di dunia. "Mengapa saya hidup dan apa yang seharusnya saya lakukan."

Ketika ia cukup dewasa, ia mulai mencari beberapa informasi tentang 'sosok  yang disebut Tuhan' yang selalu disebut oleh orang-orang dan didengar Maryam selama hidupnya. "Saya mencari Kebeneran, bukan agama tertentu," tutur Maryam.

"Kebenaran yang masuk akal bagi saya, sesuatu yang membuka hati saya dan membuat saya layak untuk hidup," ujarnya. Saat mencari ia memasuki setiap jenis gereja baik di Inggris maupun dekat rumahnya. "Tak pernah sebelumnya terbesit untuk berpikir tentang Islam."

Maryam tertarik dengan Islam, namun saat itu perang tengah berkecamuk di Irak dan ia membaca banyak hal mengerikan tentang Muslim di surat kabar. "Saya merasa berpengalaman dan memiliki pendidikan dalam mempelajari agama lain, sehingga saat itu pun saya berpikir semua itu tak benar," ungkap Maryam.

Ia pun mencari seseorang yang bisa mengajarinya dan memberi tahunya tentang Islam dan cara hidup berdasar agama ini. "Sehingga saya bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang berasal dari tipu daya setan," tutur Maryam.

Satu hal yang selalu ia lakukan selama pencarian, ia sellau berbicara dengan siapa pun dan tersenyum dan menyapa setiap orang. " Saya berkata 'Halo', 'Bagaimana kabarmu?', 'Bagaimana harimu?', karena Yesus selalu menyebarkan kebahagiaan di mana pun dan kapan pun ia berada. Saat itu saya penganut Katholik Roma," ungkap Maryam.

Namun ia merasa tak bahagia dengan agama tersebut dan akhirnya meninggalkan gereja. "Tapi saya tak tahu kemana lagi harus pergi," ujarnya.

Di saat bersamaan ia tengah mencari pula guru Islam. "Saya berdoa setiap saat, setiap hari kepada Tuhan 'Bantu aku, bantu aku, bantu aku'. Ia lakukan itu berulang-ulang, terus menerus selama dua tahun. "Karena saya tak tahu apa yang harus diperbuat dan pergi ke mana," ungkap Maryam.


Hingga suatu hari seorang kawan dari temannya membawa seorang yang alim ulama. Namanya Nur El-Din. Ia adalah seorang Arab yang lahir di negara itu. Ia mengundang Maryam untuk datang ke rumahnya dan memberi tahu buku apa yang harus dibeli dan apa yang harus ia lakukan. Bahkan Nur membuka diri untuk dihubungi kapan saja bila Maryam memiliki pertanyaan. "Itulah hubungan kami, ada tujuh volume buku yang saya baca mengenai tafsir dan terjemahan terhadap Al Qur'an dan buku itu sangat luar biasa."

Maryam pun mulai mengkaji Islam. Ia membuka buku pertamanya dan membaca kata pengantar. Ia tidak memulai dari belakang, melainkan dari depan. Ia langsung menuju surah Al Baqarah.

Sebelum Al Baqarah terdapat Surah Al Fatihah. Rupanya Maryam kembali ke awal lagi dan membaca umul kitab tersebut. "Begitu saya membaca, rasanya seperti tersambar. Air mata saya bercucuran. Hati saya berdebar keras, saya berkeringat dan gemetar," tutur Maryam.

Awalnya ia takut itu adalah godaan setan. "Seperti ia mencoba menghentikan saya karena saya mungkin menemukan jalan, karena buku ini mungkin membukakan saya menuju Kebenaran, sesuatu yang selama ini saya cari," ujarnya.

Maryam pun langsung menelpon Nur El-Din. "Ia berkata datanglah saya ingin bertemu kamu. Saya pun pergi ke tempatnya. Saat itu musim dingin, begitu sampai rasanya tubuh saya seperti balok es," ungkapnya.

Ia menuturkan pengalaman kepada Nur El-Din. "Saya berkata padanya ini pasti ulah setan, apa yang harus saya perbuat?" ujarnya. Maryam menuturkan kala air matanya bercucuran ia bisa melihat jelas ke dalam hatinya, begitu besar, merah--alih-alih terang, dan tidka berbentuk sama sekali. "Saya sangat takut," ujarnya.

Nur El-Din pun berkata padanya, "Margaret, dikau akan menjadi seorang Muslim." Maryam membalas, "Tapi saya tidak membaca buku-buku ini untuk menjadi seorang Muslim. Saya membaca demi membantah semua kebohongan yang telah disebarkan di media mengenai Muslim," ujarnya. "Saya tak ingin menjadi Muslim," kata Maryam lagi.

Namun Nur El-Din tetap pada keyakinannya. "Margeret dikau akan menjadi Muslim karena, baiklah saya harus memberi tahumu bahwa ada campur tangan kekuatan Tertinggi dalam hidupnya. "Saat itu saya berusia 65 tahun. Kini saya 66 tahun dan saya telah menjadi Muslim selama satu tahun."

Ia akhirnya melakukan kajian lebih dalam lagi dengan si ulama mulai November hingga Februari. Akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk bersegera mengucap syahadat. Saat dorongan itu timbul Maryam sempat bertanya apakah itu tak terlalu terburu-buru baginya.

"Anda tahu, ketika bertanya itu, alasannya bukan lagi karena saya tak mau menjadi Muslim. Saya telah meyakini bahwa Allah akan selalu mengampuni hambanya, yang saya pikirkan saya terlalu kecil, terlalu banyak dosa, dan hidayah itu rasanya hadiah terlalu besar bagi saya yang tak seberapa," tutur Maryam.

Nur El Din hanya berkata satu kata "Nur". Saat itu 11 Februari 2003, Maryam duduk sedikit jauh dari Nur El Din yang berpakaian serba putih mulai. "Ulangi persis seperti yang saya ucap," ujar Nur El Din. Ia mengucapkan syahadat yang langsung diulang oleh Maryam.

Usai mengucap syahadat Maryam bertanya, "Apa yang barusan saya ucapkan?". Nur El Din memaparkan artinya dalam Bahasa Inggris. Setelah itu ia pun resmi menjadi Muslim dan mengganti namanya dengan Maryam.

"Saya tak bisa berkata bahwa saya Muslim yang baik, karena itu luar biasa sulit," ungkap Maryam. "Saya kehilangan semua teman Katholik, semua teman mengobrol saya. Bahkan putri saya menganggap saya gila. Satu-satunya yang percaya saya adalah putra saya yang mengatakan mungkin saya menemukan Kebenaran. Ia adalah salah satunya yang mungkin menyusul saya menjadi Muslim," ungkapnya.

Tantangan terberat yang dirasakan Maryam adalah tempat tinggal di mana ia hidup di dunia sekuler, bukan dunia Muslim. "Dengan sepenuh hati, saya ingin tinggal di dunia Muslim dan memiliki komunitas Muslim. Saya satu-satunya Muslim yang tinggal di kawasan ini. Namun Allah selalu baik kepada saya karena ditengah kesulitan, saya tetap bahagia dan terus memiliki kesempatan belajar,"

Maryam mengaku kini membaca Al Qur'an dalam terjemahaan Bahasa Inggris. "Usia saya sungguh membuat saya sulit menghafal jadi saya menggunakan buku terjemahan. Dan saya memohon pada Allah, 'Mohon Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyanyang, saya hanyalah seorang bayi berusia 65 tahun dan saya memiliki kesulitan dan bantulah aku," setiap saya berdoa itu saya selalu menemukan jalan. Ia benar-benar membantu saya."



Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari

abstrak: artikel/kehidupan penjaja sex

abstrak: artikel/kehidupan penjaja sex

Aisha Uddin: Orang Boleh Tak Senang, Tapi Saya Bangga Bisa Menjadi Muslim

 Aisha Uddin: Orang Boleh Tak Senang, Tapi Saya Bangga Bisa Menjadi Muslim
Aisha uddin
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Kulitnya putih pucat, matanya biru terang. Sebelum berjilbab, banyak o
terkaget-kaget ia bisa melantunkan Al Fatihah dengan merdu. Memang, tak sefasih Sameeah Karim, sahabatnya. Namun, bagi seorang kulit putih seperti dirinya, sungguh luar biasa.

Sudah beberapa tahun ini, Aisha memeluk Islam. Gadis 22 tahun ini juga sudah mulai berjilbab, bahkan lebih gemar mengenakan abaya. "Sebelum ini, jeans dan hoodies adalah busana saya sehari-hari...juga make up tebal," ia terkekeh menceritakan.

Banyak yang memprotes perubahannya, tapi ia tersenyum saja menanggapinya. "Bagi saya sekarang, jelas itu merupakan perubahan dramatis, tapi saya senang dengan apa yang saya buat, karena sekarang saya tidak harus membuktikan diri untuk menjadi orang lain di luar saya. Inilah saya," ujarnya.

Aisyah menaruh minat pada agama sejak menginjak sekolah menengah. Sejak itu, ia mulai diam-diam mengunjungi masjid setempat untuk belajar agama yang semula dianggap 'aneh' olehnya.

"Islam menarik perhatian saya dan saya ingin tahu lebih jauh ke dalamnya - orang-orangnya juga budayanya - dan saya terus belajar dan belajar," ujarnya.

Melanjutkan pendidikan ke Birmingham, ia merasa bak di surga. "Saya tak perlu lagi sembunyi-sembunyi belajar, dan di sekeliling saya banyak yang Muslim," katanya.

Dia mengaku menghabiskan bertahun-tahun belajar banyak tentang Islam sebelum sepenuhnya yakin dan bersyahadat. Setelah bisa mempraktikkan shalat lima waktu dengan benar, ia mulai belajar berjilbab.

"Hidup berubah secara dramatis setelah itu," akunya.

Ia bukan sedang bercerita tentang penampilannya, namun apa yang ada dalam dirinya. "Dulu saya adalah seorang pemberontak dan selalu mendapatkan masalah di rumah. Lalu ketika saya menjadi Muslim, saya menjadiagak tenang," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga lebih senang tinggal di rumah, ketimbang dugem di luar rumah. "Mempelajari sesuatu dari internet, atau membaca buku membuat saya lebih bahagia...Kini saya bangga punya identitas tertentu," akunya.
Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: BBC, Turn To Islam

Kisah Musisi Inggris, Abdullah Rolle, yang Kini Fokus Menjad Artis Nasyid


Kisah Musisi Inggris, Abdullah Rolle, yang Kini Fokus Menjad Artis Nasyid Abdullah Rolle lahir di Inggris dan memeluk Islam sekitar tujuh tahun lalu. Sejak muda ia sudah terlibat banyak dengan kegiatan musik, produksi, sebagai penyanyi dan pemain musik.

Pada 2008 lalu, ia meluncurkan CD Nasyid pertamanya, "Peace" di Global Peace and Unity Conference yang diselenggarakan di London. Perjalanannya menuju Islam sangat terkait erat dengan karirnya sebagai musisi.

Suatu hari ia berjalan di pasar dan seorang lelaki Muslim datang mendekat padanya minta izin untuk berbicara sesaat. Si lelaki bertanya apakah Rolle tahu tentang Islam dan Rasul Muhammad.

Kala itu Role menjawab ia selalu tahu Tuhan adalah pencipta segalanya, tapi ia menekankan hanya diajari tentang Yesus, bukan Muhammad. Rolle tak ingin terlibat lebih jauh dalam diskusi itu.

"Saya bukan orang yang tertarik dengan agama saat itu. Beberapa tahun kemudian saya juga terlibat obrolan dengan seorang Muslim mengenai Keesaan Allah, tapi saya tetap tidak siap berpikir apa pun tentang Islam, atau menjadi Muslim," tutur Rolle.

"Saya tak dekat dengan orang-orang agamis. Orang-orang didekat saya yang bersentuhan dengan bisnis musik memiliki gaya hidup tersendiri. Jadi saat itu saya sama sekali tak tertarik Islam dan tak ada yang menarik saya." Waktu yang tepat bagi Rolle belum tiba.
Sebuah Toko Buku yang Mengubah Hidup

Rolle pindah ke London Timur dan kerap mengunjungi toko buku bernama Dar Assalam di kawasan West End.

Ia mengenang, "Saya selalu suka membaca tentang kisah dunia dan konspirasi serta apa yang terjadi di dunia. Beberapa hal yang saya baca benar dan sebagian lagi tidak. Namun itu tak membuat saya dekat pula dengan Pencipta. Jiwa saya selalu mencari meski saya  tak seratus persen sadar tentang itu."

Para pengunjung dan pengelola toko buku itu sering memberi Rolle brosur atau buku kecil yang ia bawa pulang dan disimpan dalam lemari. Tak lama setelah Irak diinvasi dan setelah membaca seluruh brosur, mulai tumbuh simpati dalam diri Rolle terhadap Muslim

"Saya bertanya pada diri sendiri mengapa dunia selallu menyerang Islam dan Muslim." Rolle juga kian menyadari bahwa media menggambarkan Muslim sebagai teroris. Ia menyadari itu karena paham media kerap tak mengungkapkan fakta sesungguhnya.

Rolle pun tertarik mengapa orang-orang sering menyerang Muslim. Kadang ketika ia mulai bingung, ia pergi ke kamar tidurnya, meletakkan kepala ke lantai, bersujud dan berdoa.

Tak lama kemudian, kepada putranya ia berkata, "Saya butuh sesuatu untuk makanan rohani. Buku-buku ini tak bisa berbuat banyak." Anaknya menunjuk sebuah DVD berjudul 'Whati is The Purpose of Life? oleh Khaled Yaseen.

Ia membawa satu dan membawanya pulang untuk ditonton, dan ia terinspirasi. "Semua yang saya lihat di DVD seperti sudah saya kenal lama. Saya tahu itulah kebenaran sesungguhnya," kenang Rolle.

Saat itu ia mengetahui bahwa Muslim shalat lima kali dalam sehari. Ia sempat memandang tentu sulit bagi dirinya yang berbisnis di musik untuk bisa-bisa melaksanakan. Tapi hati kecil Rolle berkata itulah yang seharusnya. Pemilik toko buku memberi ia banyak buku, namun tak satu pun yang memuat pembolehan seseorang boleh meninggalkan shalat.

Dibimbing oleh Muslim
Rolle masih ingat bagaimana komunitas Muslim membimbingnya. Ia selalu dikelilingi oleh saudara-saudara yang benar-benar menunjukkan perhatian tulus. "Saya menghabiskan banyak waktu bersama mereka selama dua tahun. Mereka mengajari saya, membenarkan saya dan mengingatkan saya. Ini terutama saudara-saudara dari toko buku. Setelah itu saya selalu bersama mereka."

"Saya selalu menemukan bahwa sebagian Muslim sangat sopan, dermawan dan baik hati. Bahkan ketika mereka memiliki masalah terkait umat di dunia, secara individu mereka selalu baik terhadap saya. Saya terdorong untuk menjadi saleh dan saya selalu mencoba. Saya ingin seperti mereka." tutur Rolle.

Saat itu, Rolle telah meyakini Islam dan memperoleh pengetahuan mendasar tentang agama itu serta dalam tahap kian ingin mendalami lebih lanjut. Kala itu pula, teman-teman Muslimnya berkata bahwa ia sudah seharusnya mendeklarasikan dua pernyataan syahadat dan mengingatkan bahwa kematian siap menjemput kapan saya. Namun, ia masih merasa belum sepenuhnya siap.

DVD lain


Ia pun bercerita pada istrinya tentang DVD yang pernah ia lihat dan bagaimana ia tersentuh sesudah itu. Kemudian ia menonton DVD lain, oleh Sheikh Fiez asal Australia berjudul One Islam yang berisi tentang Hari Perhitungan dan Pembalasan. Tiba-tiba ia merasa dilahirkan kembali.

Perasaan takut kepada Allah yang Esa mulai merasuk ke dalam kalbu "Jika saat itu saya bisa mengucapkan syahadat pasti saya lakukan segera," tutur Rolle. Keesokan hari ia tak menunda lagi. Ia menyatakan siap dan dua hari kemudian ia resmi menjadi Muslim. Setelah itu ia tak pernah menengok ke belakang.

Saat menjadi Muslim, ia mengamati para ulama dan timbul perasaan iri. "Saya berharap saya mengenal Islam ketika jauh lebih muda," tuturnya. Namun Allah tahu yang terbaik.

Saudara sesama Muslim, tutur Role selalu menggunakan pendekatan halus ketika hendak menyampaikan sesuatu, termasuk tentang Muslim. "Mereka tidak mengatakan musik haram, bila ya, tentu saya tak akan menjadi Muslim karena itulah pekerjaan dan dunia saya." tuturnya.

Salah satu tantangan terbesar Rolle setelah memeluk Islam adalah belajar Bahasa Arab dan shalat dalam Bahasa Arab. "Saya merasa seperti kembali ke sekolah. Saya beruntung karena mampu menghafal beberapa juz Al Qur'an dan saya bisa membaca tulisan Arab sehingga saya dapat shalat dan berdoa lebih banyak." ungkapnya.

Musik atau tanpa Musik?


Awal menjadi Muslim, Rolle bekerja sebagai guru musik untuk anak-anak di sekolah serta menciptakan lagu bagi pusat belajar kota. Ia bekerja dengan anak-anak yang pergi meninggalkan rumah.

Pekerjaannya membuat ia mengetahui banyak cerita sedih dari anak-anak muda. Rolle tergerak untuk menolong.

Perlahan timbul pemahaman dalam benaknya, apakah benar tak ada berkah di dalam pekerjaannya. "Haruskah saya melepas semuanya, sekolah, pusat komunitas dan yang lain? Beberapa orang menghormati apa yang saya lakukan dan yang lain mengatakan saya salah mengambil keputusan."

Rolle awalnya tak memiliki niat menyentuk nasyid setelah memeluk Islam, namun ia memiliki studio rekaman yang bisa dimanfaatkan. Kini Rolle fokus mengembangkan karir sebagai penyany i nasyid internasional. Setahun setelah album pertamanya 'Peace' dirilis ia melakukan tur ke Afrika Selatan.
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Onislam.net

Mesum di Kompleks Guru


Mesum di Kompleks Guru -  Berani juga Maksum, 52, (bukan nama sebenarnya) menyatroni istri Hasan yang jadi pekerja di penggergajian kayu. Apa nggak takut digorok suami? Nggak tahulah, yang jelas aksi mesum sesama guru itu justru kepergok oleh para tetangga di komplek guru. Kini Maksum dan Ida, 35, (bukan nama sebenarnya) jadi urusan polisi Sambas (Kalbar).
Apalah artinya sebuah nama (what’s in a name?) begitu kata sastrawan Inggris William Shakespeare. Tapi bagi orang Islam, nama bisa dimaknai sebuah doa. Idem dito orang Jawa, memberikan nama anak Slamet, dengan maksud selamat terus. Nama Rejeki dengan maksud rejekinya terus berlanjut. Tapi ada juga, namanya Untung Raharjo tapi malah mati ketabrak truk.
Bagaimana dengan si Maksum, tapi malah ketangkap berbuat mesum? Jelas ini musibah. Karena dia seorang guru, namanya jadi musibah kuadrat. Soalnya, mau tidak mau seorang guru selalu diposisikan sebagai tokoh santun, karena dia pendidik para pewaris bangsa. Tapi sebagai manusia biasa yang punya nafsu aluamah dan supiah, tergoda rayuan setan anggota SPI (Satgas Penggoda Iman), sudahlah biasa.
Begitulah kisah Maksum yang suka begituan. Sebagai guru SD di lingkungan Dinas Pendidikan Sambas, dia punya teman sesama guru bernama Ida. Meski tidak satu sekolah, keduanya sering ketemu di dinas. Dari situlah urusan mulai berlanjut. Apa lagi setelah Maksum mengetahui bahwa Ida ini sering ditinggal suaminya, karena bekerja di penggergajian kayu di Sanggau.
Lho, apa hubungannya antara suami yang jarang pulang dan kedekatan Maksum dengan guru Ida? Secara umum, tidak ada. Tapi karena ini memang nggak umum, ya jadi ada, meski tak perlu diumum-umumkan untuk umum. Yang jelas, Pak Guru Maksum tahu bahwa Ida perempuan yang sangat kesepian gara-gara sering ditinggal suaminya di tempat kerja. “Maka Sum, berlomba-lombalah kamu dalam kemesuman…..” bujuk si setan anggota SPI.
Ida memang bukan perempuan kodian, baik penampilan maupun kedudukan. Cantik, pintar dan pendidik pula. Sayangnya, dia punya “lahan” jarang digarap karena Hasan suaminya selalu berkutat dengan mesin penggergajian. Maksum sebagai lelaki normal yang sudah berkoalisi dengan setan SPI, sangat berkeinginan memberikan “solusi” bagi bu guru Ida rekannya. Ternyata gayung pun bersambut, sehingga ketika situasi sangat mantap terkendali, Maksum sering memasok kebutuhan syahwat Ida di Kompleks Guru Sungai Tapah, Salatiga, Kalimantan Barat.
Beberapa hari lalu, di kala hujan baru saja reda, nampaklah Ida dibonceng pak guru Maksum menuju rumahnya di Sungai Tapah. Tanpa sengaja seorang warga melihat pemandangan itu. Mengingat dia tahu persis siapa suami Ny. Ida, dia lalu beryakwasangka bahwa lelaki itu pastilah PIL-nya. Iseng-isengpun dia lalu mengintip ruang tamu. Lho kok benar? Bagaikan burung balam ketemu jodohnya, Ida dan lelaki tamu itu langsung berpagutan dengan mesra.
Ketika Ida lalu menyeret tamunya ke dalam kamar, sang “mata-mata” ini lalu menghubungi Pak RT. Sejumlah orang diam-diam membentuk satgas pengintipan. Duh, duh, adegannya benar-benar seru. Di kamar itu Ida tengah disetubuhi oleh tamunya. Pantesan si tamu betah nggak pulang-pulang, karena dapat suguhan istimewa berupa selimut hidup.
Atas nama etika, setelah mereka selesai melepaskan hajatnya, pintu depan diketuk. Lamaaa, baru dibuka. Pak RT segera klarifikasi dan minta pertanggungan jawab apa yang diperbuat Ida dan tamunya beberapa menit lalu. Awalnya mereka membantah, tapi setelah ditunjukkan bukti bahwa aksi mereka dijadikan ajang nobar (nonton bareng), tamu si guru Maksum itu memohon kasusnya jangan diperpanjang. Tapi warga tak peduli, sehingga malam itu juga Maksum dan Ida dibawa ke Polsek Sambas untuk menjalani proses lebih lanjut.
Pak dan bu guru berbuat saru dan seru. (BP/Gunarso

Pensiunan Ogah “Pensiun”

Pensiunan Ogah “Pensiun” -  Meski usia sudah 65 tahun, Sahrudin masih getol juga dalam urusan asmara. Maklum, biarpun sebagai PNS sudah pensiun, dalam urusan satu itu dia memang tak mau pensiun. Maka yang terjadi kemudian, Sahrudin digerebek polisi dan istrinya ketika kelonan dengan WIL-nya, yang katanya sudah dikawin siri.
Tidak semua orang bisa menyadari akan ketuaannya. Walaupun usia sudah kepala enam, tetap saja masih merasa muda. Maka bagi kalangan politisi,  mumpung punya duit dan UU tidak melarang, majulah dia jadi calon presiden. Soal jadi atau tidak, itu urusan kedua. Yang penting maju. Bukankah kegagalan itu hanyalah sukses yang tertunda?
Sahrudin memang bukan politisi, dan duitnya juga hanya pas-pasan. Maka ketika dirinya masih merasa muda, dan gairah masih juga ada, dia hanya ingin jadi presiden rumahtangga jilid II. Maksudnya kawin lagi, begitu. Sayangnya, kemauan ada, tapi keberanian tiada. Sahrudin tahu persis bahwa istrinya sangat anti poligami, meski sering ke poliklinik lantaran sakit-sakitan.
Justru karena sering sakit itu, Maisaroh, 60, sebagai istri sudah tak bisa lagi menjalankan “kewajiban” istri secara optimal. Sahrudin yang masih merasa masih muda dengan sejuta gairahnya, memandang perlu menyacari solusi/penyaluran lain. Sejak itulah dia mulai menebar pesona, mememperluas cakrawala. Siapa tahu masih ada wanita yang siap diajak kerjasama nirlaba dalam urusan rumahtangga.
Sekian lama mencari sosok alternatif, akhirnya Sahrudin dapat juga janda muda, namanya Dewi, 40. Dalam usia kepala 4, dia memang masih kenceng-kencengnya dan nafsu-nafsunya. Ketika diajak nikah dengan si kakek, ternyata dia tak menolak, yang penting ada jaminan benggol (uang) dan bonggol. “Saya mau jadi istrimu, asalkan tugasku sekedar mamah dan mlumah,” begitu persyaratan Dewi.
Syarat-syarat Dewi kakek Sahrudin mampu memenuhi, tapi persyaratan izin dari istri pertama sebagai prosedur poligami, lha ini yang repot. Dan bisa dipastikan, merengek dan menangis dengan air mata darah, tak bakalan istri di rumah mengijinkan. Maka Sahrudin menawarkan opsi baru, mau tidak dikawin siri sja?
Lantaran sudah kepalang basah, Dewi pun tidak keberatan. Toh soal keturunan, dalam usia kepala 4 dia sudah tak berharap banyak. Yang penting kan penak, bukan anak. Maka diam-diam keduanya pun menikah siri. Sejak saat itu wajah Sahrudin ceria selalu. Soalnya meski di rumah nggak keurus, di tempat Dewi selalu terjamin. Ibatat mobil, dia bisa tune up dan sporing balansing kapan saja, meski “ban” miliknya sudah mulai gundul!
Tapi sebagai pensiunan keuangan Sahrudin sangat terbatas, sehingga dia tak bisa berlama-lama menjadi nakoda dua kapal. Karena keuangan mulai berkurang, dan suami juga jadi “jarum super”, penyelidikan pun mulai digelar. Hasilnya sangat mengejutkan, ternyata Sahrudin punya WIL di Mamajang, Makasar (Sulsel). Segera saja sang istri melapor ke Polsek Mamajang dan penggerebekan dilakukan.
Pensiunan dari kota Makasar ini pun digerebek di rumah WIL-nya. Ternyata benar, ketika pintu digedor polisi, Sahrudin – Dewi sedang bermesraan lazimnya suami istri. Keduanya pun digelandang ke Polsek. Dalam pemeriksaan keduanya mengaku sudah kawin siri. Maka polisi kemudian menjerat Sahrudin dengan pasal menikah lagi tanpa izin istri pertama.
Nikahnya saja tanpa izin, apa lagi kawinnya. (HS/Gunarso TS)

Nenek Menjemput “Bola”

Nenek Menjemput “Bola” USIANYA menjelang 50 tahun, maka Ny. Yanti, 48, sudah bisa disebut nenek. Tapi karena tak memperoleh kepuasan dari suami, dia pun cari brondong bernama Ijan, 36, tetangganya. Di hari tertentu dia mengacu sistem jemput bola, untuk menjemput “bola”-nya gendakan. Sampai kemudian warga menggerebeknya.
Dalam urusan libido, kaum wanita relatif lebih bisa mengendalikan diri. Itu bisa dilihat dari banyaknya kaum wanita yang lebih memilih hidup menjanda sambil membesarkan anak, daripada kawin lagi. Bagi mereka, tak mudah cari pasangan yang bisa di atas suami. “Enaknya nggak seberapa, tapi keluarga malah jadi binasa,” begitu tekad kaum janda  yang merindukan baunya surga.
Bila ada  lembaga survei mengadakan penelitian, jumlah perempuan seperti Yanti prosentasenya pasti lebih kecil.  Betapa tidak, Ny. Yanti dari Tanjungpinang Barat, Provinsi Riau ini tak peduli menjelang nenek-nenek, anak muda pun dibujuknya sambil berseru: halo cowok, godain gue dong!
Perempuan warga Kampung Baru ini sudah lama tak memperoleh kehangatan malam dari suami. Ibarat lahan bebas gambut,  sudah lama dibiarkan kering tak dapat siraman air hujan. Sebagai perempuan yang masih enerjik, Ny. Yanti pun tak mau menerima keadaan. Daripada mati “kedinginan” di rumah, dia mulai mencari tokoh alternatif yang bisa memuaskan selera dan dahaga dirinya sebagai makhluk homo sapiens.
Di kampungnya dia punya tetangga yang lumayan muda, namanya Ijan. Di mata Yanti, baik tongkrongan maupun “tangkringan” lelaki tetangga ini sepertinya kok sangat menjanjikan. Mulailah perempuan pasang pukat dan jebakan, agar lelaki ini siap diajak berkoalisi permanen di kamar tidur. Tekadnya, kalaupun harus pakai guna-guna, tanpa menghabiskan kemeyan 1 Kg pun Sarijan pasti sudah tunduk dan takluk.
Kebetulan pula, meski usianya menjelang kepala lima, tapi Ny. Yanti ini masih termasuk STNK (Setengah Tua Namun Kenyal). Bodinya masih seksi menggiurkan, patat  belum ngelot (rata – Red) menurut istilah tukang batu. Dadanya juga masih lumayan penuh, meski bukan apa-apanya bila dibanding dengan Malinda Dee Citibank. Karenanya, begitu disodori barang bagus seperti ini, Ijan yang lelaki rumahan langsung klepeg-klepeg macam hakim disodori suap Rp 250 juta. Apa lagi si istri sudah beberapa tahun menjadi TKW di Timur Tengah.
Nenek Yanti – Ijan pun lalu sering memadu kasih bak suami istri. Pilihan wanita itu tak meleset, karena lelaki muda ini memang bisa mengimbangi seleranya. Cuma, agar aksi mesum ini lebih rapi kemasannya, si nenek tak mau membawa Ijan ke rumah. Justru sebaliknya, Yanti  yang melakukan sistem jemput bola ke rumah si lelaki, dalam arti dia menjemput “bola” si Ijan yang keras tapi lentur itu.
Cuma sial beberapa hari lalu. Saat Yanti “main bola” dengan Ijan, diintip warga. Mereka pun muak dengan kelakuan mereka, sehingga pasangan mesum itu digerebek dan diserahkan ke polisi. Dikiranya warga suami Yanti akan marah, justru dia memaafkan kelakuan istri. Karena ini delik aduan, polisi pun terpaksa melepaskan pasangan mesum itu pulang ke rumah masing-masing.
Sambil suruh nyanyi gelang sipatu gelang, nggak? (JP/Gunarso TS)

Cinta Satpam Berpaling

Cinta Satpam Berpaling BARU  jadi satpam lewat outsorcing, cintanya sudah berpaling. Inilah kelakuan Midan, 35, (bukan nama sebenarnya) warga Semarang. Saat aksi selingkuhnya ketahun bini lewat SMS, dia jadi mata gelap. Ny. Sarniti, 34,(bukan nama sebenarnya) pun dibanting dan dicekik lehernya hingga tewas. Satpam BNI ini pun jadi urusan polisi.
Sepertinya sudah salah kaprah, punya WIL atau PIL dianggapnya sebuah kebutuhan, bahkan menjadi hak semua anak bangsa. Bila ada kesempatan maupun kemampuan, kalangan pria dan wanita di mana-mana menduakan cintanya. Buktinya, kolom NID ini tak pernah kehabisan bahan. Di belahan bumi nusantara ini selalu ada saja pasangan suami istri yang mengkhianati Perjanjian KUA.
AM (anggota muda) aktivis selingkuh paling baru, rupanya Midan Satpam BNI Cabang Undip, Semarang. Meski kerjanya masih lewat jaringan calo tenaga kerja,  di mana kelangsungan kerjanya tak dijamin, dia sudah macem-macem punya WIL segala. Namanya juga Satpam bank, dengan sendirinya tiap hari ketemu nasabah yang cantik-cantik dan banyak duit. Salah satunya, Rini, 28, tertarik pada pemampilan Midan. Pertimbangan wanita itu mungkin, tongkat pentungannya saja gede dan panjang, apa lagi “pentungan”-nya yang lain.
Singkat cerita Midan – Rini sudah menjadi pasangan kekasih, lengkap dengan “pentung-pantungan”-nya ngkali. Soalnya, dalam berbagai kesempatan sang WIL berani kirim SMS mesra, berisi ajakan-ajakan mesum. Nah, beberapa hari lalu SMS itu terbaca oleh Sarniti, istri Midan. Begitu membaca kalimat-kalimat pendek dalam HP suami, dia terperangah dan menanyakan siapa gerangan dia. “Namanya sih lelaki, tapi kata-katanya kok begini, apa sampeyan homo, Mas?” tegur Sarniti telak.
Ya, dalam SMS itu oleh Midan diberi nama panggil Jumanto, tapi kok kalimatnya ajakan kelon? Maka Sarniti pun makin bernafsu untuk membuka tabir ini. Celakanya Midan juga bukan tipe lelaki yang bakat jadi pengacara. Dia blekak-blekuk memberi jawaban tak memuaskan, sehinga pada akhirnya mengaku kalah dan buka kartu bahwa Jumanto itu nama samaran seorang wanita.
Tapi ketika istri mengejar, siapa nama sesungguhnya perempuan itu, Midan malah ketularan jadi Ramadhan Pohan: ya si A lah, masak mau tahu saja! Midan diam, Sarniti jadi semakin sewot, sehingga omongannya semakin melengking-lengking. Dalam kondisi terpojok sedemikian rupa, Midan jadi nekad. Tanpa ampun Sarniti ditempeleng hingga jatuh. Habis itu langsung disusul dengan cekikan tepat di lehernya. Karena kesulitan bernapas, malam itu juga ibu dari satu anak itu tewas.
Demi melihat istri meninggal di tangannya, Midan jadi panik. Tak siap jadi napi, jenazah istrinya langsung digantung. Esuk paginya warga geger, sehingga polisi pun dilapori. Tapi dengan cepat Polsek Mijen Semarang segera tahu bahwa kematian gantung dini ini sekedar rekayasa. Dugaan pertama langsung mengarah ke Midan, apa lagi sidik jari di leher Sarniti juga tak bisa dibohongi. Satpam BNI yang tinggal di Santren Ngadirgo ini pun ditahan dengan tuduhan pembunuhan. “Saya kepepet, tak bisa berkelit dari tuduhan selingkuh,” ujarnya pada polisi.
Baru menyelewengkan cinta, apa lagi harta negara. (SM/Gunarso TS)

di kira tamu ternyata



Dikira Tamu Ternyata… – Berpositif thinking itu bagus, tapi jika selingkuhan istri malah dianggap tamu dari jauh, gimana coba? Nggak gimana-gimana, yang jelas Matius, 40, (bukan nama sebenarnya) akhirnya ngamuk saat melihat Yanet, 34, (bukan nama sebenarnya) istrinya sedang disetubuhi tamu dari jauh itu. Yosep, 33, (bukan nama sebenarnya) yang sedang “sibuk” itu langsung ditarik dan digebuki di tempat.
Di kutub utara bilangan Kanada, konon tamu dihormati dengan cara dipersilakan tidur dengan istri tuan rumah. Jika “budaya” tersebut dibawa ke sini, wah……, banyak lelaki mata keranjang jadi hobi bertamu. Asyikkan, membawa oleh-oleh sekedarnya, tapi bakal dapat “jamuan” istimewa. Bukan sekedar ayam goreng kremes, tapi hidangannya berupa paha dan dada……istri tuan rumah. Ini sih, tanpa saus pun bagi lelaki mata keranjang tetap syedapppp juga.
Di Kupang ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ny. Yanet nyaris mengadopsi cara-cara suku Eskimo tersebut. Karena PIL-nya orang jauh, dia disuruhnya menginap dengan segala servisnya. Pertimbanganya adalah, suami yang jadi sopir di luar kota, tidak mesti kembali ke rumah setiap hari. Jadi mumpung suami mandataris tak di rumah, silakan “kudeta” asmara sepuas-puasnya. Yang penting, rumput dan dedaunan tak ada yang tahu.
Matius selama ini memang menjadi sopir truk yang tugasnya sampai keluar kota. Bila sedang bawa muatan, bisa berhari-hari tak pulang. Walhasil dia ketemu istri paling-paling seminggu sekali. Hal ini membuat Ny. Yanet yang masih muda dan enerjik, jadi kesepian. Terbius ungkapan lama bahwa sopir itu setiap “ngaso mampir”, dia mencoba mengisi kesepiannya dengan mencari PIL. “Ah, suamiku di luar kota juga begitu. Apa salahnya aku membalas, biar skornya jadi satu satu,” begitu Yanet bertekad.
Selingkuhan Yanet yang bernama Yosep, memang tidak tinggal di kota Kupang. Tapi secara rutin di hari-hari “aman” dia menginap di rumah Yanet untuk mengisi hari-hari sepi tuan rumah. Dia senang-senang saja, wong semua akomodadi ditanggung panitia. Tiket bis pulang pergi dibayari, makan minum juga terjamin, ditambah lagi dapat “selimut” istimewa. Kalaupun pakai modal, paling-paling Yosep hanya disuruh rajin minum Irex.
Mungkin karen antar-tetangga sibuk dengan urusan masing-masing, sampai sekian lama “tamu istimewa” ini tak pernah terdetekti lingkungan. Maka Matius yang sibuk cari nafkah di atas roda, tak pernah terima laporan aneh-aneh dari para tetangga. Sampailah kemudian pada kejadian beberapa hari lalu. Pas dia pulang sekitar jam 20.00 kok melihat di ruang tamu ada lelaki. Dia pikir lelaki itu adalah famili Yanet dari Ambon. Karenanya dia hanya salaman dan bertegur sapa ala kadarnya, lalu tidur saking capeknya.
Tapi sekitar pukul 23.00 dia bangun dan masuk kamar pribadinya. Lho kok, di kamar dia menyaksikan tamu bernama Yosep itu tengah menyetubuhi bininya. Kontan Matius marah besar. Si tamu yang sedang “sibuk” tersebut ditarik dari atas tubuh istrinya langsung dihajar. Kalau saja tak dilerai istri, mungkin Yosep sudah jadi abon. Untuk memberi sanksi berat, Matius malam itu juga melaporkan Yosep ke Polres Kupang. Dalam pemeriksaan, “tamu istimewa” ini hanya mengaku baru menyetubuhi Ny. Yanet lima kali, tidak lebih.
Lima kali kok baru, memangnya mau berapa kali? (SCTV/Gunarso TS)